KOMPAS.com - Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah memberikan lima saran strategis untuk menghadapi gejolak pasar saham dan menjaga stabilitas pasar keuangan Indonesia.
“Pertama, tingkatkan komunikasi publik. Pemerintah dan otoritas terkait perlu memperbaiki komunikasi publik dengan cara yang lebih simpatik dan dialogis,” katanya melalui siaran pers, Selasa (18/3/2025).
Hal itu disampaikan Said menyusul penurunan signifikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sehingga membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan transaksi selama 30 menit akibat mayoritas saham mengalami penurunan hingga 5 persen.
Selain itu, ia menekankan pentingnya melibatkan pengusaha besar dan tokoh internasional, seperti Ray Dalio yang saat ini berada di Danantara, untuk berkontribusi dalam mendukung stabilitas pasar keuangan.
"Akan lebih baik lagi jika RI Prabowo Subianto bersedia turun tangan langsung dan mengajak mitra bisnis internasionalnya untuk memperkuat pasar saham Indonesia," ucap Said.
Baca juga: 5 Startup Terpilih Jadi Mitra Bisnis Ekosistem Grup Bank Mandiri
Kedua, tunjukkan reformasi fiskal yang berkelanjutan. Said berharap, pemerintah mampu meyakinkan investor bahwa reformasi fiskal yang dilakukan dapat menjamin keberlanjutan fiskal jangka panjang.
"Hal tersebut dilakukan untuk menjaga daya tarik Surat Utang Negara (SUN) sebagai instrumen investasi," ucap Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Bidang Sumber Daya itu.
Ketiga, hindari overreaction otoritas bursa dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Said meminta otoritas BEI dan OJK untuk tidak bereaksi berlebihan, yang dapat memicu aksi jual lebih luas di pasar saham.
“OJK dan BEI diharapkan mencermati perkembangan pasar dalam satu hingga dua hari ke depan,” imbuhnya.
Baca juga: Apa Itu Trading Halt? Ini Pengertian dan Aturannya di Pasar Saham
Keempat, perluas basis investor ritel dan produk syariah. Said menyarankan OJK dan BEI memperluas basis investor ritel serta memperbanyak inovasi produk keuangan berbasis syariah untuk memperkuat pasar saham domestik.
Kelima, hindari kepanikan dari pihak non-otoritas. Said mengimbau pihak yang tidak memiliki kewenangan terhadap otoritas bursa tidak mengambil langkah yang dapat memicu kepanikan pasar.
“Langkah yang tidak tepat justru semakin menimbulkan perhatian dan reaksi berlebihan dari para pelaku pasar,” ucapnya.
Berdasarkan perhitungan year-to-date (YTD), IHSG turun hingga ke posisi Rp 6.076,08 atau sebesar 15,2 persen. Dibandingkan dengan negara-negara peers, penurunan IHSG tergolong cukup signifikan.
“Bahkan, bursa Indonesia masih berada di zona merah hingga saat ini. Kondisi ini menambah kekhawatiran terhadap stabilitas pasar keuangan domestik,” ucapnya.
Said menyatakan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi pertama perdagangan hingga Selasa (18/3/2025) pukul 12.00 Waktu Indonesia Barat (WIB), melemah ke posisi Rp 16.465 per dolar AS.
Secara YTD, kata Said, penurunan nilai tukar rupiah sebesar 1,1 persen masih dianggap dalam batas wajar.
Baca juga: Sri Mulyani Sebut Kebijakan Trump Sebabkan Nilai Tukar Rupiah Melemah
Meski demikian, ia meminta Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memberikan respons yang tepat guna menenangkan pasar.
“Di luar pasar saham dan pasar keuangan, sektor perdagangan Indonesia menunjukkan indikator yang positif,” imbuh Said.
Data BPS Februari 2025 menunjukkan nilai ekspor mencapai 21,98 miliar dollar AS, naik 2,58 persen dibandingkan Januari 2025 dan 14,05 persen dibanding Februari 2024.
Secara kumulatif, nilai ekspor Januari–Februari 2025 mencapai 43,41 miliar dollar AS, meningkat 9,16 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.
“Neraca perdagangan Februari 2025 juga mencatatkan surplus sebesar 3,12 miliar atau sekitar Rp 51,07 triliun,” ujar Said.
Baca juga: Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Meningkat Secara Tahunan Jadi 3,12 Miliar Dollar AS
Sementara itu, indeks Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia versi S&P Global meningkat dari 51,9 pada Januari 2025 menjadi 53,6 pada Februari 2025.
Said menyampaikan, situasi tersebut memerlukan kebersamaan seluruh pihak untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.